Logo SantriDigital

Tentang nikmat yg Allah berikan

Khutbah Jumat
F
Fauzan Azima
6 Mei 2026 5 menit baca 2 views

أَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ...

أَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah, Kita berkumpul di sini, di rumah Allah yang suci ini, pada hari yang penuh berkah, hari Jumat. Suatu kesempatan yang sangat berharga untuk kita merenungi setiap hembusan nafas yang telah Allah karuniakan. Mari kita hadirkan hati kita, bukan sekadar raga yang duduk di sini. Mari kita tatap ke dalam diri, meresapi setiap detik kehidupan yang kita jalani. Alangkah banyak nikmat yang telah Allah limpahkan kepada kita, yang begitu besar, begitu luas, namun seringkali terlupakan, terabaikan, bahkan terinjak-injak dalam kesibukan duniawi. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia: وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ "Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya tidaklah kamu dapat menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang." (QS. Ibrahim: 34). Nikmat apa yang lebih besar dari nikmat *iman* yang menggetarkan jiwa kita saat mendengar seruan azan? Nikmat apa yang lebih agung dari nikmat *agama* yang menjadi pedoman hidup kita, yang membedakan kita dari makhluk-makhluk lainnya? Setiap tarikan nafas adalah nikmat. Setiap detak jantung adalah sedekah dari Ar-Rahman. Setiap kedipan mata adalah kesempatan berharga untuk melihat keindahan alam ciptaan-Nya, yang pada hakikatnya adalah ayat-ayat-Nya yang berbicara. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Lihatlah telapak tangan ini. Jari-jari yang bisa menggenggam, menulis, memberikan. Bukankah ini nikmat? Lihatlah mata ini. Indah warnanya, bisa melihat, membedakan siang dan malam. Bukankah ini nikmat? Dengar telinga ini. Mampu menangkap suara, bisikan kekasih, lantunan ayat suci. Bukankah ini nikmat? Alangkah sering kita mengeluh, menggerutu, ketika satu dari nikmat ini terganggu, namun alangkah jarang kita bersyukur, berterima kasih, saat kesemua nikmat ini masih utuh dan sempurna. Padahal, jika satu dari nikmat ini dicabut oleh Allah, sekejap mata, hidup kita bisa berubah menjadi penderitaan yang tak terperi. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda: نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ "Dua nikmat yang banyak dilalaikan manusia adalah nikmat kesehatan dan waktu luang." (HR. Bukhari). Betapa benar sabda Rasulullah ini! Saat kita sehat, kita merasa tak ada masalah. Dunia seakan menjadi taman bermain yang tak berujung. Kita berlarian mengejar dunia, melupakan Sang Pemberi kesehatan. Kita menghabiskan waktu luang kita untuk hal-hal yang sia-sia, yang tidak membawa manfaat di akhirat kelak. Padahal, setiap detik kesehatan dan setiap momen waktu luang adalah modal berharga untuk beribadah, untuk berbuat baik, untuk menuntut ilmu, untuk mempersiapkan diri menghadap Allah. Ketika sakit datang, atau waktu telah habis, barulah kita sadar, betapa berharganya kesehatan dan waktu yang telah kita sia-siakan. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah... Mari kita renungkan sejenak. Saat kita merasakan sakit, di mana rahmat Allah? Ia tetap ada, bahkan rasa sakit itu bisa menjadi penghapus dosa. Saat kita merasakan kesulitan, di mana pertolongan Allah? Ia selalu dekat, bahkan kesulitan itu bisa menjadi sebab terbukanya pintu kebaikan yang tak terduga. Allah tidak pernah mengurangi sedikit pun dari kadar nikmat-Nya kepada kita, bahkan ketika kita dalam keadaan lalai. Sesungguhnya, Allah tidak menjadikan kita ada di dunia ini tanpa tujuan. Dia ingin kita mengenal-Nya, mencintai-Nya, dan kembali kepada-Nya dengan membawa bekal cinta dan ketaatan. Lihatlah pada diri kita sendiri. Ada kalanya kita merasa rendah diri, merasa tidak berarti. Ingatlah, kita adalah makhluk termulia yang diciptakan Allah. Kita diberi akal untuk berpikir, hati untuk merasa, dan tubuh untuk berikhtiar. Jika kita menggunakan semua anggota tubuh ini untuk kebaikan, untuk berbakti kepada Allah dan sesama, bukankah itu adalah bentuk syukur yang paling indah? Seringkali kita sibuk membanding-bandingkan diri dengan orang lain, iri pada apa yang mereka miliki, melupakan betapa banyak karunia yang telah Allah titipkan dalam diri kita. Allah berfirman: وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ "Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka datangnya dari Allah." (QS. An-Nahl: 53). Ingatlah ini, wahai saudara-saudaraku. Segala sesuatu yang ada pada diri kita, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, baik yang kita sadari maupun tidak, semuanya adalah titipan dari Allah yang Maha Kuasa. Harta yang kita miliki, keluarga yang kita cintai, kedudukan yang kita sandang, bahkan ilmu yang kita pelajari, semuanya adalah amanah. Aset berharga yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Bagaimana kita menggunakannya? Untuk apa kita dedikasikan? Jangan sampai kita menjadi seperti orang-orang yang diingatkan oleh Allah dalam firman-Nya: فَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَانَا ثُمَّ إِذَا خَوَّلْنَاهُ نِعْمَةً مِنَّا قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ ۚ بَلْ هِيَ فِتْنَةٌ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ "Maka apabila manusia ditimpa kemudharatan, ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami memberikan nikmat kepada-nya dari sisi Kami, ia berkata, 'Sesungguhnya aku diberi nikmat ini hanyalah karena pengetahuan yang ada padaku.' Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (QS. Az-Zumar: 49). Betapa celakanya kita, jika nikmat yang Allah berikan justru membuat kita sombong, ujub, dan lupa diri. Nikmat itu adalah ujian. Apakah kita akan gunakan untuk menambah kebaikan, ataukah akan menjadi tiket menuju jurang kehancuran? Saatnya kita bangkit. Saatnya kita merajut kembali tali spiritual kita dengan Sang Pencipta. Mulailah dari detik ini, dari sekarang. Ucapkan kalimat *Alhamdulillah* bukan hanya di lisan, tapi resapi maknanya di kedalaman hati. Syukuri setiap nikmat, sekecil apapun. Beribadahlah dengan penuh kesadaran, penuh cinta, bukan hanya karena kewajiban. Doalah dengan penuh harap, bukan sekadar permintaan. Allahumma ya Rahman, ya Rahim, Ampuni segala khilaf dan kelalaian kami. Tunjukkanlah kami jalan nikmat-Mu yang sesungguhnya, Jalan yang mengantarkan kami kepada ridha-Mu, Jalan yang menghantarkan kami ke surga-Mu yang abadi. Jadikanlah hati kami senantiasa bergetar karena takut kepada-Mu, dan penuh harapan untuk bertemu dengan-Mu. Bimbinglah kami untuk selalu mensyukuri nikmat yang telah Engkau berikan, dan menggunakan nikmat itu di jalan kebaikan. Aamiin ya Rabbal 'alamin. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →